Puluhan siswa SMA Negeri 3 Salatiga mengikuti Seminar Kebhinekaan di Ruang Edutaintmen pada Senin pagi, 12 Agustus 2024. Mereka terdiri dari ketua kelas dan sekretaris seluruh kelas ditambah empat orang perwakilan OSIS. Seminar kebhinekaan ini merupakan pendahuluan dari rangkaian Gelar Karya P5 tema Kebhinekaan yang akan berlangsung pada keesokan harinya.

Seminar yang dibuka secara langsung oleh Kepala Sekolah Drs. Suyitno, M.Pd. ini menampilkan narasumber Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Salatiga Drs. Noor Rofiq. Dalam paparannya, Noor Rofiq mengupas pengertian toleransi, baik dilihat dari segi etimologi, dari Bahasa Arab dan Bahasa Belanda.
Dijelaskannya, istilah toleransi berasal dari Bahasa Inggris ‘tolerance’ yang berarti sikap membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerulkan persetujuan. Sedangkan dalam Bahasa arab, istilah ini disebut dengan kata ‘tasamuh’ yang berarti saling mengizinkan, saling memudahkan.

Adapun dalam Bahasa Belanda dipakai kata ‘tolerer’ yaitu membolehkan, membiarkan, dengan pengertian membolehkan atau membiarkan yang pada prinsipnyatidak perlu terjadi.
Noor Rofiq yang juga Kepala SMK Sultan Fattah Salatiga ini lalu mencontohkan bagaimana heterogennya masyarakat di tempat tinggalnya.
Ketika ditanya peserta tentang upaya yang dilakukan FKUB dalam rangka menciptakan kerukunan dan toleransi di Salatiga, Noor Rofiq mengatakan bahwa FKUB sudah melakukan sosialisasi dan tindakan nyata. Tiap tahun FKUB selalu menyelenggarakan seminar-seminar serupa yang dilakukan oleh SMA 3 Salatiga.
Ketika ditanya peserta tentang upaya yang dilakukan FKUB dalam rangka menciptakan kerukunan dan toleransi di Salatiga, Noor Rofiq mengatakan bahwa FKUB sudah melakukan sosialisasi dan tindakan nyata. Tiap tahun FKUB selalu menyelenggarakan seminar-seminar serupa yang dilakukan oleh SMA 3 Salatiga.
Sedangkan untuk tindakan nyata, FKUB bekerja sama dengan sebuah Lembaga telah mengadakan pengobatan mata gratis seperti operasi katarak dan kelainan mata lainnya.
“Kita tetap berupaya, agar kota kita, Salatiga ini tetap masuk tiga besar kota tertoleran di Indonesia,” katanya.
Seminar yang berlangsung hampir 2 jam ini mendapat perhatian yang besar dari para peserta. Mereka tampak antusias mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Ketua FKUB.
Adapun pihak sekolah berharap para peserta dari perwakilan kelas dan OSIS yang mengikuti seminar kebhinekaan ini dapat mengimbaskan kepada orang lain. Minimal kepada teman-teman sekelasnya.
